Sabtu, 30 Juni 2012

LAPORAN PEMGAMATAN TUMBUHAN BERDASARKAN FUNGSI PENCERNAAN


LAPORAN PEMGAMATAN
TUMBUHAN BERDASARKAN FUNGSI
                                                                                           sebagai obat gangguan pencernaan



“Laporan pengamatan ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Taksonomi Tumbuhan Tinggi (TTT)”


Dosen Pengampu:
Drs. Sulisetjono, M.Si
Ainun NIkmati Laily, M.Si

Oleh:
Anni Yunia Pratiwi (10620077)
Sulfiyah (10620079)
Elik Sutriani (10620084)
Baharuddin Rauf (10620090)

KELAS C






JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2012
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb
Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, hidayah, dan inayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan pengamatan Taksonomi Tumbuhan Tinggi ini dengan baik dan lancer. Laporan ini disusun dalam rangka memenuhi persyaratan ujian Taksosnomi Tumbuhan Tinggi.
Laporan ini disusun dengan mendapatkan arahan-arahan ataupun penjelasan dari pembimbing. Untuk itu, kami mengucapkan terimankasih kepada:
1.   Drs. Sulisetjono, M.Si selaku dosen pengampu dan pembimbing kuliah dan praktikum mata kuliah Taksoonomi Tumbuhan Tinggi
2.   Ainun Nikmati Layli, M.Si selaku dosen pengampu dan pembimbing kuliah dan praktikum mata kuliah Taksonomi Tumbuhan Tinggi.
3.   Mbak-mbak asisten-asisten yang telah membantu dan memberikan arahan-arahan.
4.   Rekan-rekan semua yang telah member dorongan semangat kepada kami
5.   Pihak-pihak lain lain yang tidak mungkin kami sebutkan datu persatu yang juga telah ikut membantu kami
Atas arahan dan bimbingan yang bermanfaat hingga terwujudnya laporan ini.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan dan penyusunan laporan ini masih banyak kekurangannya serta masih dari jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dan kesempunaan dalam penulisan dan penyusunan laporan yang akan datang. Dan semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Amin-amin Ya Robbal’alamin.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


                                                                                    Malang, 14 April 2012


                                                                                                Praktikan
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................   i
DAFTAR ISI................................................................................................   ii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................   1         
1.1 Latar Belakang.......................................................................................   1
1.2 Rumusan Masalah.................................................................................   1                     
1.3 Tujuan....................................................................................................   2
BAB II PEMBAHASAN..............................................................................   3
2.1 Jambu Biji (Psidium guajava L.)............................................................   3
2.2 Adas (Anethum graveolens L.)..............................................................   8
2.3 Kedondong (Lannea grandis Engl.).......................................................   12
2.4 Kompri (Symphytum officenale)............................................................   16
2.5 Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.)...................................................   19
2.6 Tapak Dara (Catharantus roseus (L.) G. Don )....................................   24
2.7 Asam Jawa (Tamarindus indica L)........................................................   29
2.8 Nanas (Ananas comosus Merr )...........................................................   33
BAB III PENUTUP......................................................................................   37
3.1 Kesimpulan............................................................................................   37
3.2 Saran......................................................................................................   37
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................   38
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Indonesia adalah negara yang mempunyai beragam budaya, suku, dan bangsa. Indonesia juga  negara yang beragam akan kekayaan alam. Semua terbenang dari Sabang sampai Meraoke. Kekayaan tersebut berupa flora dan fauna yang beragam macam, bentuk, dan fungsinya baik bagi manusia atau bagi lingkungan. Kekayaan itu berasal dari hutan dan laut Indonesia yang luas dan melimpah akan hasil alam yang tak terbatas.
Di Indonesia ini terdapat berbagai macam tumbuhan yang tumbuh dengan subur. Tumbuhan-tumbuhan tersebut ada yang di gunakan sebagai bahan pangan, sandang, dan papan serta sebagai obat untuk menyembuhkan dan mencegah beberapa macam penyakit. Tumbuhan yang berkhasiat obat yang di miliki oleh Indonesia sangat banyak sekali bahkan mungkin masih ada tumbuhan yang mempunyai beberapa manfaat yang belum diketahui.
Orang Indonesia belum menggunakan tumbuhan-tumbuhan yang berakhisiat obat yang ada di sekitarnya secara maksimal. Ada yang sudah tahu tentang khasiatnya tapi tak sedikit dari mereka yang menggunakan obat-obatan kimia karena dianggap lebih instan dan cepat penggunaannya. Ada juga yang masih belum mengerti akan manfaat tumbuhan yang ada di sekitarnya.
Dengan alasan itulah, kami mencoba untuk memberikan sedikit keterangan tentang tumbuhan-tumbuhan yang berkhasiat sebagai obat yang biasanya diolah secara tradisional terutama yang diketahui berkhasiat sebagai obat gangguan pencernaan. Semoga dengan ini bisa member pengetahuan yang membawa banyak manfaat bagi masyarakat luas.

1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam pengamatan ini adalah sebagai berikut:
1.   Apa sajakah contoh tumbuhan yang mempunyai manfaat untuk mengobati gangguan pencernaan?
2.   Bagaimanakah morfologi atau ciri-ciri dari tumbuhan-tumbuhan tersebut?
3.   Apa manfaat umum tumbuhan-tumbuhan tersebut???



1.3 Tujuan
Tujuan pengamatan ini adalah sebagai berikut:
1.   Untuk mengetahui tumbuhan yang bermanfaat sebagai obat gangguan pencernaan
2.   Untuk mengetahui morfologi atau cirri-ciri dari tumbuhan-tumbuhan tersebut
3.   Untuk mengetahui manfaat lain tumbuhan-tumbuhan tersebut


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Jambu Biji (Psidium guajava L)


Sistematika:
 Kingdom         Plantae
       Divisio            Magnoliophyta
                Classis         Magnoliopsida                               
                        Ordo             Myrtales   
                                Familia          Myrtaceae
                                         Genus        Psidium
                                                Species        Psidium guajava L.                               
(Arisandi, 2008).
Nama lokal:
Psidium guajava (inggris/belanda); jambu biji (indonesia)
Jambu klutuk, Bayamas, tetokal, Tokal (Jawa); Jambu klutuk
Jambu Batu (sunda); jambu bender (madura)

Deskripsi  tumbuhan:
A.  Habitat
Tanaman jambu biji (Psidium guajava)ini dapat tumbuh subur di daerah dataran rendah sampai pada ketinggian 1200 meter diatas permukaan laut (Arisandi, 2008).

B.  Habitus
Menurut  Steenis (2006), menyatakan bahwa jambu biji (Psidium guajava) termasuk tanaman perdu atau pohon kecil yang mempunyai banyak cabang dan ranting dengan tinggi 3-10 m.

C.  Morfologi Secara Umum
1.   Daun (folium)
Daun jambu biji (Psidium guajava) tergolong daun tidak lengkap karena hanya terdiri dari tangkai dan helaian saja sehingga disebut daun bertangkai. Daun jambu biji termasuk daun tunggal, bersilang berhadapan, bertangkai pendek 3mm sampai 7 mm, dan pada cabang-cabang mendatar seolah-olah tersusun dalam dua baris pada satu bidang (Hembing, 006).
Sifat – sifat daun yang di miliki oleh jambu adalah sebagai berikut (Tritosoepomo, 2005):
a.   Bangun daun (Circumscription)
Dilihat dari letak bagian terlebarnya jambu biji bagian terlebar daunnya berada ditengah-tengah dan bangun daunnya termasuk berbentuk jorong (ovalis atau ellipticus) karena mempunyai perbandingan panjang : lebarnya adalah ½ - 2.
b.  Ujung Daun (Apek Folli)
Ujung daun jambu biji berbentuk tumpul (obtutus), yaitu tepi daun yang semula masih agak jauh dari ibu tulang, cepat menuju kesuatu titik pertemuan membentuk sudut 900.
c.   Pangkal Daun (Basis Folii)
Karena tepi daunnya tidak pernah bertemu, tetapi terpisah oleh pangkal ibu tulang / ujung tangkai daun, maka pangkal dari daun jambu biji ini, adalah tumpul (obtusus).
d.  Susunan tulang – tulang daun (Nervatio atau Venatio)
Daun jambu biji memiliki susunan tulang daun menyirip (penninervis), daun ini memiliki satu ibu tulang yang berjalan dari pangkal ke ujung dan merupakan terusan tangkai daun dari ibu tulang kesamping, keluar tulang- tulang cabang, sehingga susunannya menyerupai susunan sirip -sirip pada ikan.
e.   Tepi daun (Margo Folli)
Jambu biji memiliki tepi daun yang rata (integer).
f.    Daging daun (Intervinium)
Sifat – sifat lain yang perlu diperhatikan antara lain :
·      Warna
Jambu biji (Psidium guajava) mempunyai daging daun berwarna hijau
·      Permukaan daun
Pada umumnya warna daun pada sisi atas tampak lebih hijau licin dan mengkilat jika di bandingkan dengan sisi bawah karena lapisan atas lebih banyak terhadap warna hijaunya, jambu biji memiliki permukaan daun yang berkerut (rogosus).

Secara ringkas menurut Kartasapoetra (1996), menyatakan bahwa daun-daun jambu biji yang berbau aromatik dan berasa sepat tersebut mempunyai uraian makroskopiknya sebagai berikut:
1.   Daun tunggal, berwarna hijau keabuan
2.   Helai-helai daun berbentuk jorong sam[ai bulat memanjang
3.   Ujung daun meruncing sedang pangkal daun meruncing pula tetapi membulat
4.   Berukuran panjang antar 6 cm sampai 15 cm, lebar antar 3 cm sampai 7,5 cm, sedang tangkainya kurang 1 cm
5.   Daun berambut penutup pendek, tampak berbintik-bintik yang sungguhnya merupakan rongga-rongga lisigen, warnanya gelap, daalm keadaan terendam air menjadi tembus cahaya.

2.   Batang (Caulis)
Batang jambu biji (Psidium guajava) termasuk batang berkayu, berbentuk bulat, dengan permukaannyan licin, berwarna cokelat kehijauan, dan ruas tangkai teratas berbentuk segiempat tajam (Steenis, 2006).
Percabangan batang termasuk percabangan simpodial, yaitu batang pokok sukar ditentukan karena dalam perkembangan selanjutnya mungkin lalu menghentikan pertumbuhannya atau kalah besar dan kalah cepat pertumbuhannya dibandingkan dengan cabangnya. Arah tumbuh cabang tegak (fastigiatus). Jambu biji termasuk tumbuhan bienial, yaitu tumbuhan yang untuk hidupnya, dari tumbuh sampai berbuah memerlukan waktu kurang lebih 2 tahun (Tritosoepomo, 2005).

3.    Akar (Radix)
Jambu biji memiliki sistem perakaran akar tunggang yang bercabang (ramosus) yaitu akar tunggang yang berbentuk kerucut panjang, tumbuh lurus ke bawah, bercabang cabang banyak dan cabang-cabangnya bercabang lagi, sehingga memberi kekuatan yang lebih besar pada batang dan juga daerah perakaran menjadi amat luas sehingga dapat menyerap air dan zat-zat makanan yang lebih banyak (Steenis, 2006).

4.   Bunga
Bunga pada jambu biji merupakan bunga tunggal yang terletak di ketiak daun, bertangkai yang terdiri dari kelopak dua mahkota yang masing – masing terdiri atas 4 – 5 daun berkelopak dan sejumlah daun mahkota yang sama, dan tidak merapat memiliki benang sari yang banyak dan berkelopak, berhadapan dengan daun – daun mahkota memiliki tangkai sari dengan warna yang cerah bakal buah tenggelam dan mempunyai satu tangkai putik (Arisandi, 2008).
Menurut Steenis (2006), menyatakan bahwa perbungaan jambu biji terdiri 1 sampai 3 bunga. Panjang gagang perbungaan 2 cm sampai 4 cm. Bunga jambu biji termasuk bunga banci dengan hiasan bunga yang jelas dapat dibedakan dalam kelopak dan mahkota bunga, aktinomorf/zigomorf, berbilangan 4. Daun mahkota bulat telur terbalik, panjang 1,5-2 cm, putih, segera rontok. Benang sari pada tonjolan dasar bunga yang berbulu, putih, pipih dan lebar, seperti halnya tangkai putik berwarna seperti mentega. Tabung kelopak berbentuk lonceng atau bentuk corong, panjang 0,5 cm. pinggiran tidak rontok (1 cm panjangnya). Tabung kelopak tidak atau sedikit sekali diperpanjang di atas bakal buah, tepi kelopak sebelum mekar berlekatan menjadi bentuk cawan, kemudian membelah menjadi 2-5 taju yang tidak sama.bulat telur, warna hijau kekuningan. Bakal buah tenggelam, dengan 1-8 bakal biji tiap ruang.

5.   Buah
Jambu biji memiliki buah sejati tunggal yang berdaging dan berbentuk bulat. Buah jambu biji dikelompokkan ke dalam buah sejati tunggal karena buah ini terjadi dari satu bunga dengan satu bakal buah saja dan memiliki lebih dari satu biji (Komandoko, 2008).
6.   Biji
Menurut Steenis (2006), menyatakan bahwa biji jambu biji berbentuk bulat, keci-kecil, jumlahnya banyak dan terdapat pada daging buahnya.

D.  Manfaat
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwasanya jambu biji mempunyai kandungan nutrisi sebagai berikut (Hembing, 2006):
1.    Vitamin C (yang terkandung daalm kulitnya memliki 5 kali lipat vitamin C dibanding dengan jeruk).
2.    Vitamin A dan B
3.    Kalsium
4.    Asam Nicotinic
5.    Phosphorus Fosfor
6.    Potassium
7.    Zat Besi
8.    Asam Folic
9.    Serat

Dengan kandungan nutrisi yang terkandung di dalamnya tersebut, maka manfaat Jambu biji untuk kesehatan khususnya pada masalah saluran pencernaan, di antaranya adaalh sebagai berikut (Hembing, 2006):
1.   Diare dan disentri: jambu biji sangat kaya zat pengikat (persenyawaan zat yang terkandung dalam jambu dengan zat dalam mulut pada saat mebguyah daun jambu atau buji mentah maka akan merasa segar) zat tersebut yang membnatu mengikat usus pada penderita diare.
jambu biji mengandung zat alkaline alami, desinfektan dan anti bakteri sehingga membantu dalam penyembuhan disetri yang disebabkan oleh pertumbuhan mikroba dan mengurangi produksi lender yang berlebih dari usus.
Selanjutnya dengan kandungan lain dalam jambu biji seperti vitamin C dan Potasium Carotenoids akan membentu memperkuat sistem pencernaan dalam mengatasi bakteri tersebut.
2.   Sembelit: salah satu zat yang bermanfaat yang terkandung dalam jambu biji adaalh serat pangan, serat ini berguna untuk mencegah berbagai penyakit degerative, seperti kanker usus besra (kanker kolon) karena sifatnya yang bisa larut dalam air sehinga dapat membantu pengeluaran residu hasil produksi tubuh yang tidak bermanfaat lagi melalui proses buang air besar.
Menurut penelitian bahwa tidak lancarnya pembuangan kotoran (sembelit) dapat mengakibatkan 72 buah jenis penyakit sehingga dengan lancarnya proses pembuangan yang dihasilkan dari pencernaan tersebut sangat baik untuk kesehatan tubuh secara keseluruhan.



2.2 Adas (Anethum graveolens L)


Sistematika:
Kingdom          Plantae
        Divisio           Magnoliophyta   
     Classis          Magnoliopsida
 Ordo               Apiales
          Familia          Apiaceae
       Genus          Anethum
     Species      Anethum graveolens L.
                                                                                                (Arisandi, 2008).



Nama lokal:
Hades (sunda); adas londa, adas landi (jawa); adas (madura)-adas (Bali); wala wungu (Sumba); Daun pedas (melayu); adeh, Manih (minangkabau); papaato (manado); popoas (alfuru); denggu-denggu (gorontalo); papaato (Buol); porotomo (Baree); Kumpasi (sangir Talaud); adasa, rempasu (makasar); adase (Bugis); Hsiao hui (cina); Phong karee, mellet karee (Thailand); Jintann Mapis (malaysia); Barisaunf, Madhurika (Ind.I Park); Fennel, commaon fennel,  sweet fennel, Fenkel, spigel (1)

Deskripsi Tumbuhan:
A.  Habitat
Tumbuhan adas (Foeniculum vulgare Mill) ini dapat hidup di dataran rendah hingga ketinggian 1.800 m di atas permukaan laut. Namun akan tumbuh lebih baik di dataran tinggi (Arisandi, 2008).

B.  Habitus
Menurut Arisandi (2008), menyatakan bahwa adas termasuk jenis tumbuhan terna berumur panjang, dengan tinggi mencapai 50 cm-2 m, tumbuh merumpun. Satu rumpun biasanya terdiri dari 3-5 batang.

C.  Morfologi Secara Umum
1.   Daun (Folium)
Daun Adas (Foeniculum vulgare Mill) termasuk dalam daun majemuk menyirip ganda dengan sirip-sirip yang sempurna dan letak daunnya berseling. Daun adas ini dapat tumbuh sepanjang 40 cm (Agoes, 2010).
Sifat – sifat daun yang di miliki oleh jambu adalah sebagai berikut (Tritosoepomo, 2005):
a.    Bangun/bentuk daun (Circumscriptio)
Daun Adas mempunyai bentuk daun seperti jarum atau disebut bangun jarum (acerosus), serupa dengan bangun paku, lebih kecil,dan meruncing panjang.
b.    Ujung (Apek Folli)
Ujung daun adas berbentuk runcing (acutus), jika kedua tepi daun di kanan dankiri ibu tulang sedikit demi sedikit menuju ke atas dan pertemuannya pada puncak daun membentuk suatu sudut lancip (lebih kecil dari 900.)
c.    Pangkal Daun (Basis Folli)
Sama seperti ujung daun adas, pangkal daun adas juga berbentuk runcing (acutus), yang biasanya juga terdapat pada daun bangun memnajang, lanset, belah ketupat, dll.
d.    Susunan Tulang-tulang Daun (Nervatio atau Venatio)
Tumbuhan adas mempunyai susunan tulang daun sejajar. Hal ini dapat diketahui dari bentuk daun tumbuhan adas yang berbentuk pita.
e.    Tepi Daun (Margo Folli)
Daun adas (Foeniculum vulgare Mill) memiliki tepi daun yang rata (integer)
f.     Daging Daun (Intervenium)
Daun adas (Foeniculum vulgare Mill) tumbuh sepanjang 40 cm, berbentuk pita, dengan segmen terakhir dalam bentuk rambut, kira-kira selebar 0,5 mm. Letak daun berseling dan termasuk dalam dalam daun mejemuk menyirip ganda dengan sirip-sirip yang sempurna bentuk jarum, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, berseludang warna putih. Seludang berselaput dengan bagian atasnya berbentuk topi (Arisandi, 2008)

2.   Batang (Caulis)
Batang tumbuhan adas berwarna  hijau kebiruan, beralur, dan beruas serta , berlubang. Selain itu, batang tumbuhan adas juga berbau sedap dan wangi, serta batang membentuk percabangan yang cukup banyak 90 (Arisandi, 2008).

3.   Akar (Radix)
Menurut Tritosoepomo (2005), menyatakan bahwa tumbuhan adas mempunyai sistem perakaran serabut, yaitu jika aka lembaga dalam perkembangan selanjutnya mati atau kemudian disusul oleh sejumlah akar yang kurang lebih sama besar dan semuanya beasal dari calon akar yang asli dinamakan akar liar, bentuknya seperti serabut, oleh karena itu dinamakan akar serabut (radix adventicia)


4.   Bunga
Perbungaan tersusun sebagai bunga majemuk yang bergerombol pada setiap percabangan dengan membentuk satu kesatuan seperti payung dengan 6-40 gagang bunga yang terletak di ujung tangkai, sehingga disebut bunga paying majemuk. Panjang gagang bunga 2-5 mm  dengan mahkota berwarna kuning  yang keluar dari ujung batang. Pada setiap umbel mempunyai 20-50 kuntum bunga kuning yang amat kecil pada pedikel-pedikel pendek (Steenis, 2006)

5.   Buah
Menurut Steenis (2006), menaytakan bahwa tumbuhan adas (Foeniculum vulgare Mill) memiliki buah berbentuk oval atau lonjong, berukuran kecil, berjumlah banyak, berusuk, mempunyai panjang 6-10 mm, lebar 3-4 mm, dan ketika masih muda sampai hijau setelah tua coklat agak hijau kecoklatan agak kuning sampai sepenuhnya cokelat bila sudah tua.

6.   Biji
Tumbuhan adas mempunyai biji kecil-kecil yang berjumlah banyak (Steenis, 2006).

D.  Manfaat
Berdasarkan hasil penelitian yang sudah ada, buah adas mengandung banyak senyawa aktif di antaranya: anetol, pinen, limonene, betha sitosterol, faladren, arginin, stigmasterol, betha sithosterol, kamfena, dianethole, asam anisat, minyak atsiri. Selain itu, adas juga menghasilkan minyak adas , yang merupakan hasil sulingan serbuk buah adas yang masak dan kering. Ada dua macam minyak adas: manis dan pahit. Keduanya digunakan dalam industri obat-obatan (Hembing, 2006).
Tumbuhan adas dapat digunakan untuk pengobatan berbagai macam penyakit, seperti sakit perut (mulas), perut kembung, mual, muntah, ASI sedikit, diare, sakit kuning (jaundice), kurang nafsu makan, batuk, sesak napas (asma), nyeri haid, haid tidak teratur, rematik goat, susah tidur (insomnia), buah zakar turun, pembengkakan saluran sperma (epididimis), penimbunan cairan dalan kantong buah zakar (hidrokel testis), keracunan tumbuhan obat atau jamur, serta dapat digunakan untuk meningkatkan fungsi pengihatan (Agoes, 2010).
Menurut Agoes (2010), menyatakan bahwa adas manis seperti adas, mengandung anetol dan dikenal sebagai zat fitoestrogen yang merupakan antiparasit ringan. Daunnya bisa digunakan untuk merawat gangguan pencernaan, meredakan sakit gigi, dan minyak atsirinya bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit kutu (head lice) dan kudis.



2.3 Kedondong (Lannea grandis Engl.)


Sistematika:
Kingdom          Plantae
            Divisio             Spermatophyta
                        Kelas               Dicotyledonae
                                    Bangsa            Sapindales
                                                Familia                        Anacardiaceae           
                                                            Marga              Lannea           
                                                                        Spesies           Lannea grandis Engl. 

                                                                                                (Arisandi, 2008)


Nama Lokal:
Melayu                        : kaki kuda
Sunda              :Kikuda
Madura            :Kayu Palembang

Botani
Sinonim: Lannea caromandelica Merr., Odina wodier Adelb.

Deskripsi Tumbuhan
A.  Habitat
Kedondong (Lannea grandis Engl)  merupakan salah satu tanaman yang dapat tumbuh dengan baik di daerah dataran rendah sampai ke daerah pegunungan pada ketinggian 750 meter di atas permukaan laut. Tanaman kedondong sangat mudah tumbuh di daerah yang beriklim kering. Tetapi juga dapat tumbuh pada tanah yang gembur, ketika musim kemarau, dengan menggugurkan seluruh daunnya. Sehingga yang terlihat hanya dahan dan ranting-rantingnya saja. Sedangkan pada musim hujan, tanaman kedongdong tersebut yang sudah gundul tersebut mulai bertunas lagi, yang diikuti dengan tumbuhnya daun-daun yang baru dan kemudian berbunga (Ipteknet, 2005).

B.  Habitus
Tanaman kedondong (Lannea grandis Engl), termasuk dalam jenis pohon yang tinggi. Tingginya dapat mencapai ketinggian 20 sampai 30 meter. Malahan kalau dibiarkan terus tumbuh, pohon ini dapat mempunyai garis tengah 50 sampai 60 sentimeter (Komandoko, 2008).

C.  Morfologi Secara Umum
1.   Daun (Folium)
Berdasarkan duduknya anak daun pada ibu tangkai dan besar kecilnya anak-anak daun yang terdapat pada satu ibu tangkainya, daun kedondong termasuk dalam kelompok daun majemuk menyirip dengan anak daun berjumlah lima belas dan saling berdahapan. Daun kedondong dapat mencapai panjang 6-10 cm, lebar 25-50 mm (Ipteknet. 2005).

Sifat – sifat daun yang di miliki oleh jambu adalah sebagai berikut (Tritosoepomo, 2005):
a.    Bangun daun (Circumscriptio)
Kedondong mempunyai bentuk atau bangun daun kedondong berbentuk bulat memanjang (oblongus), yaitu jika panjang : lebar= 21/2 – 3:1.
b.    Ujung Daun (Apek Folii)
Ujung daun kedongdong berbentuk runcing (ocutus), jika kedua tepi daun di kanan kiri ibu tulang sedikit demi sedikit menuju ke atas dan pertemunanya pada puncak daun membentuk suatu sudut lancip (lebih kecil dari 900). Ujung daun yang runcing lazim terdapat pada daun-daun yang mempunyai bentk daun bulat memanjang, lanset, segitiga, delta, belah ketupat,dll.
c.    Pangkal daun (Basis Folli)
Sama halnya ujung daunnya, daun kedondong juga mempunyai pangkal daun yang berbentuk runcing (ocutus).
d.    Susunan Tulang-tulang Daun (Nervito atau Venatio)
Daun kedondong memiliki susunan tulang daun menyirip (penninervis), daun ini memiliki satu ibu tulang yang berjalan dari pangkal ke ujung dan merupakan terusan tangkai daun dari ibu tulang kesamping, keluar tulang- tulang cabang, sehingga susunannya menyerupai susunan sirip -sirip pada ikan.
e.    Tepi Daun (Margo folli)
Daun kedondong memiliki tepi daun yang bergerigi (serratus), yaitu jika sinus dan angulusnya sama lancipnya. Sinus merupakan torehnya (lekukan) sendiri, sedangkan angulus merupakna bagian tepi daun yang menonjol keluar.
f.     Daging daun (Intervenum)
Berdasarkan tebal atau tpisnya helaian daun, daging daun kedondong seperti kertas (papyraceae atau chartaceus), dan berwarna hijau tua.

2.   Batang (Caulis)
Tanaman kedondong (Lannea grandis Engl) mempunyai batang yang berkayu, berbentuk bulat, bercabang, bekas daun nampak jelas, masih muda hijau setelah tua putih kehijauan (ipteknet,2005).

3.   Akar (radix)
Sistem perakaran pada tanaman kedondong adalah sistem akar tunggang, yaitu jika aakr lembaga tumbuh terus-menerusbjadi akar pokok yang bercabang-cabang menjadi akar-akar yang lebih kecil. Akar pokok yang beasal dari akar lembaga disebut akar tunggang (radix primaria) (Ipteknet, 2005).

4.   Bunga
Tumbuhan kedondong (Lannea grandis Engl) mempunyai susunan bunga majemuk, bentuk malai, dengan panjang kelopak bunga ± 1 mm, benang sari berjumlah delapan sampai sepuluh, berwarna kuning. Sedangkan putiknya berjumlah empat, pendek,  dan berwarna kuning kehijauan (Ipteknet, 2005).

5.   Buah
Buah tanaman kedondong (Lannea grandis Engl) termasuk dalam buah buni, dengan bentuk bulat memanjang ketika masih muda hijau tetapi setelah tua warnanya berubah menjadi hijau kuning (Ipteknet, 2005).

6.   Biji
Biji buah tanaman kedondong berbentuk bulat, berserat, dan berwarna putih (Ipteknet, 2005).

D.  Manfaat
Berdasarkan penilitian diketahui bahwasanya batang dan daun kedondong mengandung saponin, flavonoida, dan tannin. Selain batang dan daun kedondong, ternyat kulit batang kedondong berkhasiat sebagai obat mencret dan obat sariawan.
Ø  Untuk obat mencret dipakai ± 15 gram kulit batang segar kedondong, dicuci lalu dipotong kecil-kecil, direbus dengan 2 gelas air selama 15 menit setelah dingin disaring. Hasil saringan diminum sehari dua kali sama banyak pagi dan sore.



2.4 Kompri (Symphytum officenale)


Sistematika:
Kingdom          Plantae
          Divisio             Spermatophyta
                 Classis              Dicotyledone
                           Ordo                 Solanales
                                    Familia                       Boraginaceae
                                            Genus            Symphytum
                                                    Spesies           Symphytum officenale       
                                                                                                (Arisandi, 2008)

Nama Ilmiah
Symphytum officinale L.

Nama lokal:
Kompri, komring (jawa); K’ang fu li (China); comfrey, knitbone (inggris

Deskripsi Tumbuhan
A.  Habitat
Tumbuhan kompri (Symphytum officinale L.) sangat populer di Eropa dan Asia Barat. Tumbuhan ini dapat tumbuh di tanah yang berumput basah atau di pinggir selokan. Di indonesia tumbuhan kompri biasa ditanam dalam pot atau di kebun sebagai tumbuhan obat (Arisandi,2008).
B.  Habitus
Menurut Arisandi (2008), menyatakan bahwa tumbuhan kompri termasuk jenis herba yang membentuk rumpun. Tumbuhan ini  dapat mencapai tinggi kira-kira 20-50 cm.

C.  Morfologi Secara Umum
1.   Daun (Folium)
Menurut Steenis (2008), menyatakan bahwa daun kompri termasuk daun tunggal (folium simplex) dan termasuk daun tidak lengkap, karena daun kompri  terdiri atas upih dan helaian. Sehingga, daun kompri disebut juga daun berupih  atau berpelepah. Pelepah tumbuh berseling pada pangkal yang merupakan roset akar dan berwarna hijau. Panjang daun kompri kira-kira dapat mencapai 27-50 cm dengan lebar kira-kira  4,5-14 cm.
Roset akar yaitu jika batang amat pendek, sehingga semua daun berjejal-jejal di atas tanah, jadi roset itu amat dekat dengan akar (Tritosoepomo, 2005).
Sifat – sifat daun yang di miliki oleh kompri adalah sebagai berikut (Tritosoepomo, 2005):
a.    Bangun daun (Circumscriptio)
Dilihat dari bagian yang terlebar terdapat di bawah tengah-tengah helaian daunnya, daun kompri memiliki bentuk atau bangun daun bangunbulat telur (ovatus) dengan pangkal daunnya tidak bertoreh.
b.    Ujung Daun (Basis Folli)
Ujung daun kompri berbentuk runcing (ocutus), jika kedua tepi daun di kanan dankiri ibu tulang sedikit demi sedikit menuju ke atas dan pertemuannya pada puncak daun membentuk suatu sudut lancip (lebih kecil dari 900.).
c.    Pangkal Daun (Basis folli)
Sama seperti ujung daun adas, pangkal daun adas juga berbentuk runcing (acutus), yang biasanya juga terdapat pada daun bangun memanjang, lanset, belah ketupat, dll.
d.    Susunan Tulang-tulang Daun (Nervatio atau venatio)
Daun kompri memiliki susunan tulang daun menyirip (penninervis), daun ini memiliki satu ibu tulang yang berjalan dari pangkal ke ujung dan merupakan terusan tangkai daun dari ibu tulang kesamping, keluar tulang- tulang cabang, sehingga susunannya menyerupai susunan sirip -sirip pada ikan.
e.    Tepi Daun (Margo Folli)
Jambu biji memiliki tepi daun yang rata (integer).
f.     Daging Daun (Intervinium)
Sifat – sifat lain yang perlu diperhatikan antara lain :
·      Warna
Kompri  () memiliki daging daun berwarna hijau.
·      Permukaan daun
Umumnya permukaan daun kompri berambut kasar.

2.   Batang (Caulis)
Menurut Arisandi (2008), menyatakan bahwa tumbuhan kompri (Symphytum officinale L.) memiliki batang semu, tidak berkayu, dan mempunyai batang yang bertangkai.

3.   Akar (Radix)
Tumbuhan kompri memiliki sistem perakaran tunggang, sehingga disebut berakar tunggang dan berwarna coklat (Iptekenet, 2005).

4.   Bunga
Pembungaan tersusun sebagai bunga majemuk, dengan bentuk bunga seperti corong, bertaju lima. Bunga pada tumbuhan kompri memiliki benang sari berjumlah lima, kepala sari berwarna kuning sampau putih kekuningan (Steenis, 2006).

5.   Buah
Menurut Arisandi (2008), menyatakan bahwa tumbuhan kompri (Symphytum officinale L.) mempunyai buah yang tiap buahnya terdiri dari 4 biji.

6.   Biji
Tumbuhan kompri (Symphytum officinale L.) memiliki biji berbentuk bulat, kecil, keras, dan berwarna hitam (Arisandi,2008).

D.  Manfaat
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwasanya daun kompri mengandung alkaloida, saponin, flavonoida dan polifenol. Sehingga, daun kompri berkhasiat sebagai obat rematik, obat mencret, obat tipus, obat lambung dan obat pegal linu (Ipteknet, 2005):

Ø  Untuk obat rematik dipakai ± 15 gram daun rnuda segar kompri, dicuci, dipotong kecil-kecil, dimakan sebagai lalab.

 

 

 

2.5 Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.)



belimbing_wuluh.jpg
 












Sistematika :
Kingdom          Plantae
      Divisio            Magnoliophyta
             Kelas              Magnoliopsida
                   Ordo                Geraniales
                           Familia           Oxalidaceae
                                    Marga              Averrhoa
                                         Spesies             Averrhoa bilimbi L.
                                                                                                (Arisandi, 2008)


Nama Daerah:
Limeng, selimeng, thlimeng (Aceh), selemeng (Gayo), asom, belimbing, belimbingan (Batak), malimbi (Nias), balimbieng (Minangkabau), belimbing asam (Melayu), balimbing (lampung), belimbing wuluh (Jawa), calincing, balingbing (Sunda), bhalingbing bulu (Madura), blingbing buloh (Bali), limbi (Bima), libi (Sawu), balimbeng (Flores), belerang (Sangi), lumpias, rumpeasa dureng, wulidan, lopias, lembetue (Gorontalo), bainang (Makasar), Calene (Bugis), takurela (Ambon), uteke (Irian Jaya) (Hembing, 2006).

Nama Asing:
Bilimbi, cucumber tree (Inggris), kamias (Philipina)

Deskripsi Tumbuhan :
A.  Habitat
Belimbing wuluh banyak ditanam sebagai pohon buah. Kadang-kadang tumbuh liar dan dapat ditemukan dari daratan rendah sampai 500 m dpl (Hembing, 2006).

B.  Habitus
Pohon belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.)  ini merupakan pohon kecil atau perdu yang dapat mencapai tinggi 10 meter. Batang tidak begitu besar dengan percabangan yang sedikit (Hembing, 2006).

C.  Morfologi Secara Umum
1.   Daun (Folium)
Daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) tergolong daun tidak lengkap karena hanya terdiri dari tangkai dan helaian saja. Daun belimbing wuluh termasuk daun majemuk,menyirip gasal dengan 21-45 anak daun berhadap-hadapan dan memiliki panjang 2-10 m dan lebar 1-3 m (Hembing, 2006).
Sifat-sifat daun yang dimiliki daun Belimbing Wuluh adalah sebagai berikut (Tritosoepomo, 2005):
a.    Bangun Daun (Circumscriotion)
Belimbing wuluh mempunyai bangun daun bulat telur sampai jorong.

b.    Ujung (Apek Folli)
Tanaman ini mempunyai ujung daun berbentuk runcing yaitu tepi daun yang mula-mula agak menjauh kemudian semakin meruncing membentuk ujung daun yang tajam.
c.    Pangkal Daun (Basis Folii)
Pangkal daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) berbentuk bundar
d.    Susunan Tulang Daun (Nervatio atau venation)
Susunan tulang daun dari belimbing wuluh ini (tepatnya tulang daun dari anak daun) berbentuk menyirip. Yaitu, satu ibu tulang daun melintang pada tengah daun, dari pangkal sampai ke ujung daun, Sedangkan beberapa anak tulang daun membujur ke tepi yang pangkal anak tulanga daunnya berada pada ibu tulang daun.
e.    Tepi Daun (Margo Folii)
Belimbing wuluh memiliki tepi daun yang rata (integer).
f.     Daging Daun (Intervinium)
Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain :
·      Warna Daun
Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) memiliki daging daun yang berwarna hijau muda sampai hijau tua.
·      Permukaan Daun
Jika kita pegang daun belimbing wuluh ini, permukaan atasnya lebih halus dari pada permukaan bawahnya. Selain itu, permukaan bawah daun Nampak lebih hijau daripada permukaan atas.

2.   Batang (Caulis)
Batang belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) berkayu keras, tetapi mempunyai nilai ekonomis yang tidak besar. Pohonnya tergolong kecil, tinggi mencapai 10 meter dengan batang tidak begitu besar, kasar berbenjol-benjol, dan mempunyai garis tengah hanya sekitar 30 cm. percabangan sedikit, arahnya condong ke atas, cabang muda berambut halus seperti beludru berwarna coklet muda (Purwaningsing, 2007).

3.   Akar (Radix)
Beliming wuluh (Averrhoa bilimbi L.) mempunyai akar tunggang dan memiliki akar samping yang banyak. Hal ini memungkinkan pohon ini dapat menyerap meniral-mineral tanah lebih banyak. Walaupun akar dari belimbing wuluh ini cukup kuat, tetapi letaknya tidak terlalu dalam, yaitu sekitar 1,5 m sampai 2 meter (Purwaningsing, 2007).

4.   Bunga
Bunga belimbing wuluh ini terdiri dari 5 helai kelopak dan 5 helai mahkota. Bakal buah ada 5 ruang dengna bakal biji (ovulum) yang jumlahnya lebih dari satu. Kelopak bunga berwarna kemerahan. Pangkal mahkota bunga berwarna merah. Tetapi ujung mahkotanya berwarna keungu-unguan.Perpaduan tersebut sangat menarik bintang pencari madu sehingga dapat membantu proses terjadinya penyerbukan (Purwaningsing, 2007).
Menurut Purwaningsih (2007), menyatakan bahwa kuntum bunga belimbing berukuran kecil, lemah dan mudah gugur jika ditiup angin. Bunga terrnasuk bunga sempurna. Berdasarkan pada jenis kelaminnya bunga belimbing wuluh ini berupa bunga hemaprodit karena dalam satu bunga terdapat dua jenis kelamin yaitu putik dan benang sari. Jumlah benang sari bervariasi yaitu sekitar 5-15 buah. Biasanya benang sari tersebut akan bersatu atau lepas dari pangkalnya. Tepung sari terdapat dalam dua ruangan kepala sari (anther).
Bunga belimbing wuluh ini umumnya keluar dalam tandan atau rangkaian yang bercabang-cabang (panicula). Kedudukan putik adalah heterodistylus. Artinya, ada yang lebih rendah dan ada yang lebih tinggi disbanding dengan antera. Dengan adanya putik yang berkedudukan lebih rendah dan ada yang lebih tinggi dibandingkan benang sari memungkinkan terjadinya penyerbukan sendiri (Self-pollination) atau self-compatible). (Purwaningsing, 2007).

5.   Buah
Buah berbentuk lonjong. Ketika masih muda warnanya hijau, tetapi ketika sudah matang akan berubah warna yang semula hijau menjadi agak kekuning-kuningan. Buah tersebut rasanya asam, berair, dan agak kesat (Purwaningsing, 2007).


6.   Biji
Bijinya kecil (6mm), berbentuk pipih, dan berwarna coklat, serta tertutup lender (Steenis, 2006).

D.  Manfaat
Beberapa sifat dari belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) adalah sebagai berikut: rasa asam dan sejuk. Dapat menghilangkan sakit (analgetik), memperbanyak pengeluaran empedu, antiradang, dan juga sebagai astringent. Batang belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) mengandung saponin, tannin, glucoside, calcium, oksalat, sulfur, dan asam format. Daun mengandung tannin, sulfur, asam format, dan asam poriksidase (Agoes, 2010).
Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) memiliki banyak manfaat bagi kesehatan manusia atau pun yang lainnya. Manfaat-manfaat itu antara lain adalah (Arisandi, 2008):
1.   Sebagai Obat Batuk
Bahan : Segenggam daun belimbing wuluh, segenggam bunga dan 2 buah belimbing wuluh dan gula batu.
Cara penyajian : Rebus 2 dengan 2 gelas air sampai akhirnya tinggal setengah, saring, minum 2 kali sehari.
2.   Sebagai Obat Jerawat
Bahan : 10 buah belimbing wuluh dan kapur sirih
Cara penyajian : Cuci bersih semua bahan kemudian dihaluskan sampai seperti bubur kemudian beri sedikit kapur sirih.
Cara penggunaan : Digosokkan ke kulit yang terkena jerawat dan lakukan hal tersebut 2 kali sehari.
3.   Diabetes
Bahan :  6 buah belimbing wuluh dilumatkan
Cara penyajian : Direbus dengan segelas air sampai airnya tinggal setengah, saring, minum 2 kali sehari.
4.   Rematik
Bahan : 100 gr daun muda belimbing wuluh, 10 biji cengkeh, dan 15 butir lada.
Cara penyajian : Cuci bersih semua bahan kemudian dihaluskan sampai seperti bubur kemudian beri sedikit cuka.
Cara penggunaan : Digosokkan pada bagian yang sakit.
5.   Sariawan
Bahan :10 kuntum bunga belimbing wuluh, asam jawa, gula aren
Cara Penyajian : Direbus dengan 3 gelas air sampai airnya tinggal 3/4
Cara menggunakan : Diminum 2 kali sehari.
6.   Sakit gigi
Bahan : 5 buah belimbing wuluh.
Cara menggunakan : Setelah di cuci dikunyah dengan sedikit garam, ulangi beberapa kali sampai hilang rasa sakitnya.



2.6 Tapak Dara (Catharanthus roseus (L.) G.Don)


                                                                                                                                                                                               






                 


Sistematika :
Kingdom          Plantae
         Divisio          Magnolipphyta
    Kelas           Magnoliopsida
                        Ordo           Gentianales
                             Familia           Apocynaceae
                                    Marga              Catharantus
                                          Spesies            Catharantus roseus (L.) G. Don             
       (Soenanto, 2009)

Nama Daerah :
Rutu-rutu, rumput jalang (Sumatera); Kembang Sari Cina, Kembang Serdadu, Kembang Tembaga, Paku Rane, Tapak Doro, Cakar Ayam (Jawa); Sindapor (Sulawesi); Usia (Maluku) (Hembing, 2006).

Nama Asing :
Chang chun hua, indonesisce maagdepalm, Madagascar periwinkle herb, soldatenbloem, visca (Hembing, 2006).

Deskripsi Tumbuhan :
A.  Habitat
Tanaman Tapak Dara (Catharanthus roseus (L.) G.Don) umumnya di tanam sebagai tanaman hias dan dapat ditemukan dari daratan rendah sampai ketinggian 800 m di atas permukaan laut. (Hembing, 2006)..

B.  Habitus
Menurut Hembing (2006) tanaman tapak dara ini adalah tanaman perdu yang tumbuh tegak, tingginya dapat mencapai 120 cm, dan mengandung getah. Batang bulat berkayu, berwarna merah tengguli, berambut halus, dan mempunyai banyak cabang.

C.  Morfologi Secara Umum
1.   Daun (Folium)
Daun tapak dara (Catharanthus roseus (L.) G.Don) adalah jenis daun tunggal yang tidak lengkap karena hanya memiliki tangkai dan helaian saja. Tangkai daun berukuran pendek. Helaian daun memiliki permukaan yang halus dengan panjang 2-6 cm dan lebar 1-3 cm. (Soenanto, 2009).
Sifat-sifat daun yang dimiliki daun Tapak Dara adalah sebagai berikut (Tritosoepomo, 2005):
a.   Bangun Daun (Circumscriotion)
Daun tunggal, agak tebal, bertangkai pendek, letaknya berhadapan bersilang, bentuk bulat telur sampai memanjang.
b.  Ujung Daun (Apek Folii)
Ujung daun tapak dara berbentuk tumpul (obtutus).

c.   Pangkal Daun (Basis Folii)
Tumbuhan tapak dara ini mempunyai pangkal daun yang meruncing dimana pada mulanya tepi daun agak jauh dari ibu tulang daun kemudian semakin ke pangkal semakin dekat dengan ibu tulang daun sehingga akhirnya bertemu di pangkal.
d.  Susunan Tulang Daun (Nervatio atau Vanatio)
Tapak dara memiliki susunan tulang daun yang menyirip dan tukang daunnya tidak menonjol baik permukaan atas atau  permukaan bawahnya.
e.   Tepi Daun (Margo Folii)
Tapak dara mempunyai tepi daun rata atau integer.
f.    Daging Daun (Intervinium)
Sifat-sifat yang perlu diperhatikan antara lain :
·           Warna
Tapak dara (Catharanthus roseus (L.) G.Don) mempunyai daging daun yang berwarna hijau.
·           Permukaan Daun
Tapak dara mempunyai permukaan yang tebal mengkilap pada kedua permukaannya (permukaan atas dan permukaan bawah) serta berambut halus.

2.   Batang (Caulis)
Batang tapak dara (Catharanthus roseus (L.) G.Don) berbentuk bulat kecil tidak berkayu, kecuali di bagian bonggolnya atau pangkal batang yang sudah tua. Batang tapak dara juga mempunyai rambut dan beruas (Lingga, 2008).

3.   Akar (Radix)
Tanaman tapak dara mempunyai sistem perakaran serabut dangkal. Sebagaimana cirri tanaman golongan dikotil semusim, akar tersebut menyebar secara merata sejak tanaman ini masih berupa kecambah, sehingga membentuk cabang akar yang rapat. Panjang akar ahanya sekitar 20 cm.  Khusus tapak dara perennial atau tapak dara tahunan, jika ditanam secara langsung di tanah panjang akarnya bisa mencapai 50 cm. Sistem yang membentuk serabut ke bawah, sedangkan akar tanaman berasal dari biji tumbuh menyebar, baik secara horizontal atau vertical, sehingga perakarannya lebih kuat (Lingga, 2008).
Ciri khusus perakaran tapak dara (Catharanthus roseus (L.) G.Don) adalah membentuk sejenis bonggol dari pangkal batang, terutama pada tapak dara jenis rebah (cascade) dan jenis tahunan (perennial) (Lingga, 2008).

4.   Bunga
Bunga bersusun majemuk dan keluar dari ujung tangkai dan ketiak daun (aksial). Helai bunga berjumlah lima dengan posisi mendatar. Pada Tapak dara hibrida, dari warna dasar putih dan merah muda tercipta variasi warna bunga dan bentuk yang berbeda-beda. Mahkota bunga berbentuk terompet, ujungnya melebar, berwarna putih, biru, merah jambu atau ungu tergantung kultivarnya.

5.   Buah
Buah tapak dara (Catharanthus roseus (L.) G.Don)  berbentuk polong atau bumbung berbulu. Buah ini menggantung dan setiap buah berisi  6-10 biji yang berbentuk hitam dan berbentuk lonjong (Steenis, 2006).

6.   Biji
Tapak dara (Catharantus roseus (L.) G. Don) mempunyai biji hitam yang berbentuk lonjong (Steenis, 2006).

D.  Manfaat
Menurut Azwar (2010) tanaman tapak dara mengandung komponen antikanker, yaitu alkaloid seperti vinca leukoblastine, leurokristine, vinkadiolin, leurosidin, dan kaarantin. Selain itu juga, mengandung alkaloid yang mengandung hipoglikemik (menurunkan gula darah) seperti katarantin, locherin, tetrahidroalstonin, vindolin, dan vindolinin, sedangkan akarnya mengandung alkaloid, saponin, flavonoid, dan tannin.
Menurut Agoes (2010), menyatakan bahwa kandungan alkaloid total di dalam daun tapak dara berkisar 0,70-0,82%. Untuk memperoleh 50 miligram vinkristine dibutuhkan satu ton daun kering tapak dara. Seluruh bagian tanaman mengandung zat aktif antara 0,2-1%.
Tapak dara karena kandungan senyawanya, menjadi berkhasiat dalam mengobati beberapa jenis penyakit, bahkan di luar negeri, tapak dara ini sudah diolah menjadi obat suntik. Namun perempuan hamil dilarang menggunakannya. Berikut adalah uraian cara penggunaan tapak dara dalam mengobati penyakit penyakit-penyakit tersebut (Agoes, 2010):
1.   Darah tinggi, kencing manis, leukemia limfosit akut
Rebus daun tapak dara segar sebanyak 15 g dengan gelas air sampai tersisa 2 gelas. Setelah dingin, saring dan minum 2 kali sama banyaknya, di pagi hari dan sore hari.
2.   Luka tersiran air panas
Tumbuk halus beberapa helai daun helai segar tapak dara dan beras secukupnya, sampai menjadi seperti bubur, balurkan pada luka.
3.   Kanker payudara
Cuci 22 lembar tapak dara, buah adas, dan kulit kayu pulasari secukupnya. Kemudian rebus didalam air sebanyak 3 gelas. Tambahkan gula merah secukupnya dan biarkan air mendidih hingga tersisa separuhnya. Setelah dingin, saringlah dengan saringan teh. Minumlah ramuan ini 3 kali sehari (pagi, siang, dan malam), masing-masing ½ gelas (Dr. Samiran dari Laboratorium Fitokimia, Balitbang Botani Herbarium, LIPI Bogor).
4.   Hipertensi
Rebus 15 gram daun atau bunga tapak dara dengan 400 cc air hingga 200 cc lalu saringlah airnya minumlah menjelang tidur.
5.   Diabetes
Rebus 6 gram daun atau bunga tapak dara dengan 400 cc air hingga 200 cc lalu saringlah airnya minumlah menjelang tidur.
6.   Batu Ginjal
Rebus daun tapak dara sebanyak 30 g, daun keji beling 30 g, danun tempuyung 15 g, dengan 600 cc air hingga 300 cc. Kemudian saring dan minumlah 2 kali sehari.






2.7 Asam Jawa (Tamarindus indica  L.)



 












Sistematika:
Kingdom          Plantae
        Divisio            Magnoliophyta
                 Kelas            Magnoliopsida                     
                         Ordo                 Fabales
Familia                     Fabaceae
                    Genus          
Tamarindus
                               Spesies     Tamarindus indica L.
                                                                                                (Arisandi, 2008)

Nama lokal:   
Tamarind (inggris)
Tamarinier (perancis)
asam Jawa (indonesia)
celangi , Tangkai asem (sunda)
 asem (Jawa).

Deskripsi Tanaman:
A.  Habitat
Merupakan kultivar daerah tropis dan termasuk tumbuhan berbuah polong. Asam jawa termasuk tumbuhan tropis.Asal-usulnya diperkirakan dari savana benua Afrika timur di mana jenis liarnya ditemukan, salah satunya di Sudan. Semenjak ribuan tahun, tanaman ini telah tersebar sampai ke benua Asia tropis, dan kemudian juga tersebar ke Karibia dan Amerika Latin. Di banyak tempat yang iklim dan tanah yang sesuai akan tumbuh subur, termasuk di Indonesia, tanaman ini banyak tumbuh liar seperti di hutan-hutan luruh daun dan savana (Iptekenet, 2005).
Pohon asam dapat tumbuh baik hingga ketinggian sekitar 1.000 m dpl, pada tanah berpasir atau tanah liat, khususnya di wilayah yang musim keringnya jelas dan cukup panjang (Steenis, 2006)

B.  Habitus
Menurut Steenis (2006), menyatakan bahwa pohon asam berperawakan besar, daunnya selalu hijau dan akan gugur semuanya pada saat musim bunga tiba hanya tinggal pohon dan ranting-rantingnya setelah itu keluar bunga dan disusul tunas daun-daun muda, ketinggian pohon bisa mencapai 30 m dan diameter batang di pangkal hingga 2 m. Kulit batang berwarna coklat keabu-abuan, kasar dan memecah, beralur-alur vertikal. Tajuknya rindang dan lebat berdaun, melebar dan membulat.

C.  Morfologi Secara Umum
1.   Daun (Follium)
Daun majemuk menyirip genap, panjang 5-13 cm, terletak berseling, dengan daun penumpu seperti pita meruncing, merah jambu keputihan. Anak daun lonjong menyempit, 8-16 pasang, masing-masing berukuran 0,5-1 × 1-3,5 cm, bertepi rata, pangkalnya miring dan membundar, ujung membundar sampai sedikit berlekuk. Daunnya bertangkai panjang (±17 cm) dan bersirip genap (Steenis, 2006).

2.   Batang (Caullis)
Asam jawa mempunyai batang yang di bgian bawahnya lebih besar dan ke ujung semakin mengecil, jadi batangnya dapat di pandang suatu kerucut atau limas yang amat memanjang, yang dapat mempunyai  percabangan atau tidak (Iptekenet, 2005).
Tumbuhan yang berbatang, batang kayu  (lignous), yaitu batang yang biasa keras dan kuat, karena sebagian besar  terdiri atas kayu yang terdapat pada pohon-pohon (arbores)  atau semak-semak (frutices) (Ipteknet, 2005).

3.   Akar (Radix)
Akar adalah bagian pokok bagi tumbuhan yang tubuhnya telah merupakan kormus. Akar pada asam jawa memiliki tugas yaitu memperkust berdirinya tumbuhan , untuk menyerap air dan zat-zat makanan yang terlarut di dalam ir tadi dalam tanah. Menangkut air dan zat-zat makanana tadi ke tempat-tempat pada tubuh tumbuhan yang memerlukan. Kadang-adang sebagai tempat penimbunan makanan (Komandoko, 2008).

4.   Bunga
Bunga tersusun dalam tandan renggang, di ketiak daun atau di ujung ranting, sampai 16 cm panjangnya.Bunga kupu-kupu dengan kelopak 4 buah dan daun mahkota 5 buah, berbau harum. Mahkota kuning keputihan dengan urat-urat merah coklat, sampai 1,5 cm. Bunganya kuning merahan (Steenis, 2006).

5.   Buah
Buah polong yang menggelembung, hampir silindris, bengkok atau lurus, berbiji sampai 10 butir, sering dengan penyempitan di antara dua biji, kulit buah (eksokarp) mengeras berwarna kecoklatan atau kelabu bersisik, dengan urat-urat yang mengeras dan liat serupa benang. Daging buah (mesokarp) putih kehijauan ketika muda, menjadi merah kecoklatan sampai kehitaman ketika sangat masak, asam manis dan melengket. Biji coklat kehitaman, mengkilap dan keras, agak persegi. Bah polongnya berwarna coklat dengan rasa asam. Di dalam buah polong terdapat kulilt yang mmbungkus daging  buah dan 2-5 buah berbenuk pipih, warna coklat kehitaman (Steenis, 2006).

6.   Biji
Asam jawa memiliki  biji yang diselimuti atau di lapisip daging buah asam jawa. Memiliki warna coklat jehitam-hitaman. Biji  asam jawa jua dapat d jadikan bibit untuk prkembang biakannya. Bertunas dan menjadikan biji sebagai asal mula sbagai tumbuhan dan berkembng serta tumbuh menjadi pohon sejati (Steenis, 2006).

D.  Manfaat
Asam jawa Tamarindus indica memiliki manfaat dalam kehidpuan manusia. Khusus terkait dalam proses pencernaan makanan. Menyembuhkan sakit perut dan diare. Kandungan kimia yang terkandung di dalam asam jawa yaiitu: Buah polong asam jawa mengandung senyawa kimia antara lain  asam appel, asam sitrat, asam anggur, asam tartrat, asam suksinat, pectin dan gula invert. Buah asam jawa yang masak di pohon mengandung nilai kalori sebesar 239 kalper 100 gram, protein 2,8 gram per 100 gram, lemak 0,6 gram per 100 gram, hidrat arang 62,5 gram per 100 gram, kalsium 74 miligram per 100 gram, fsfor 113 gram per 100 gram, zat besi 0,6 miligram per 100 gam, vitamin A 30 Siper 100 gram, vitamin B1 0,34 miligram per 100 gram, vitamin C  2 miligram per 100 gram. Kult biji mengandung phlobatannnin dan bijinya mengandung albuminoid seta pat (Hembing, 2006)
Daging buah asam jawa sangat populer, dan digunakan dalam aneka bahan masakan atau bumbu di berbagai belahan dunia. Buah yang muda sangat masam rasanya, dan biasa digunakan sebagai bumbu sayur asam atau campuran rujak. Buah yang telah masak dapat disimpan lama setelah dikupas dan sedikit dikeringkan dengan bantuan sinar matahari. Asem kawak --demikian ia biasa disebut-- inilah yang biasa diperdagangkan antar pulau dan antar negara. Selain sebagai bumbu, untuk memberikan rasa asam atau untuk menghilangkan bau amis ikan, asem kawak biasa digunakan sebagai bahan sirup, selai, gula-gula, dan jamu (Ipteknet, 2005).










2.8 Buah Nanas (Ananas comosus (L.) Merr.)



Sistematika:
Kingdom          Plantae
     Divisio               Magnoliophyta
            Kelas               Liliopsida
                  Ordo                  Bromeliales
                            Familia             Bromeliaceae                                         
Genus                Ananas
                     Spesies         Ananas comosus Merr
(Arisandi, 2008)

Nama lokal:
Nenas, nanas (Jawa)
Danas (Sunda)

Deskripsi Tanaman
A.  Habitat
Merupakan tanaman hias tumbuh subur di daerah lembab. Asal-usul Tanaman nanas berasal dari Amerika tropis, yakni Brasil, Argentina, dan Peru.Pada saat ini, nanas telah tersebar ke seluruh dunia, terutama di sekitar khatulistiwa antara 300 LU dan 300 LS. Di indonesia, tanaman nanas sangat populer dan banyak di tanam di tegalan dari dataran rendah hingga dataran tinggi (Arisandi, 2008)
B.  Habitus
Termasuk gawar-gawaran. Tinggi pohon 40-60 cm. Perawakan (habitus) tumbuhannya rendah, herba (menahun) dengan 30 atau lebih daun yang panjang  dalam bahasa Inggris disebut sebagai pineapple karena bentuknya yang seperti pohon pinus (Steenis, 2006).

C.  Morfologi Secara Umum
1.   Daun (Follium)
Daun lebar, panjang, mudah patah, warna permukaan atas hijau bawah merh tengguli.panjang daun kutang lebih sekitar 30 cm, lebar 2,5-6 cm. Daun dan cabang Daunnya panjang sekali, berurat sejajar, dan pada tepinya tumbuh duri yang menghadap ke atas (ke arah ujung daun). Pada beberapa varietas nanas, durinya mulai lenyap, tetapi duri pada ujung daunnya sering masih terlihat.Daun muncul dan terkumpul pada pangkal batang, daun kelopak dari setiap kuntum bunga, yang dikenal sebagai mata, masih jelas meninggalkan bekas pada buah tersebut.Bunganya adalah bunga sempurna yang mempunyai tiga kelopak (sepalum), tiga mahkota (petalum), enam benang sari, dan sebuah putik dengan stigma bercabang tiga. Di atas buah tumbuh daun-daun pendek yang tersusun seperti pilin yang disebut mahkota (crown). Daunnya dapat diolah menjadi serat (benang) yang bagus sebagai bahan pakaian. Di dalam buah terdapat zat bromelin yang bersifat sebagai pemecah protein (pelunak daging), tetapi daya proteolitiknya lebih rendah daripada papain. Daunnya mempunyai serat panjang, tetapi belum dimanfaatkan sebagai bahan pakaian (Steenis, 2006).

2.   Batang (Caullis)
Batang dan mahkota bunga dapat dipotong dan dibelah untuk dijadikan bibit. Tanaman nanas merupakan rumput yang batangnya pendek sekali.Nanas merupakan tanaman monokotil dan bersifat merumpun (bertunas anakan). Pada batang tumbuh tangkai bunga dan sering pula tumbuh tunas.Tunas pada batang isebut sucker, sedangkan tunas pada tangkai buah disebut slips. b. Bunga Tanaman nanas berbunga pada ujung batang dan hanya sekali berbunga yang arahnya tegak ke atas. Sebenarnya bunga nanas bersifat majemuk dan terdiri terdiri dari lebih 200 kuntum bunga yang tidak bertangkai.Letak bunga duduk tegak lurus pada tangkai buah utama, kemudian mengembang menjadi buah majemuk yang enak dimakan. Batang kasar, pendek, lurus tidak  bercabang  (Steenis, 2006)

3.   Akar (Radix)
Tanaman ini tidak tahan terhadap salju, tetapi tahan sekali terhadap kekeringan. Akar Tanaman hanya berakar serabut dan mengandung cukup banyak air. Akar nanas dangkal dan tersebar luas. Namun, tanaman lebih senang terhadap tanah buahnya sering hangus.Di daerah beriklimkering (4-6 bulan kering), tanamn masih mampu berbuah, asalkan kedalaman air tanah antara 50-150 cm. Hal ini disebabkan akarnya dangkal, tetapi tanaman mampu menyimpan air. Perbanyakan Tanaman Sampai sekarang tanaman nanas diperbanyak dengan anakan yang keluar dari pangkal batang Namun, adakalanya diperbanyak pula dengan sucker atau slips dan mahkotanya (Ipteknet, 2005).

4.   Bunga
Bunga bewarna putih, berbentuk bunga karang. Bunga Tanaman nanas berbunga pada ujung batang dan hanya sekali berbunga yang arahnya tegak ke atas. Sebenarnya bunga nanas bersifat majemuk dan terdiri dari lebih 200 kuntum bunga yang tidak bertangkai. Letak bunga duduk tegak lurus pada tangkai buah utama, kemudian mengembang menjadi buah majemuk yang enak dimakan. Daun kelopak dari setiap kuntum bunga, yang dikenal sebagai mata, masih jelas meninggalkan bekas pada buah tersebut.Bunganya adalah bunga sempurna yang mempunyai tiga kelopak (sepalum), tiga mahkota (petalum), enam benang sari, dan sebuah putik dengan stigma bercabang tiga.Tanaman nanas menyerbuk silang dengan perantaraan burung kicau/penyanyi (burung prenjak) dan lebah.Tanaman nanas sebenarnya tidak bersifat musiman, tetapi dapat berbunga setiap saat.Namun, ada kecenderungan suhu yang dingin, terutama suhu malam dengan sinar matahari rendah, dapat memacu pembungaan tanaman nanas. Namun, umur tanaman berbunga tidak menjadi persoalan karena pembungaan tanaman nanas dapat diatur dengan memberikan zat tumbuh, di antara karbid dan ethrel 40 PGR (Iptekent, 2005).

5.   Buah
Buah nanas merupakan buah majemuk yang disebut sinkarpik atau coenocarpium. Di atas buah tumbuh daun-daun pendek yang tersusun seperti pilin yang disebut mahkota (crown). Buah matang dapat pula dibuat minuman (jus) atau kalengan (canning).Di dalam buah terdapat zat bromelin yang bersifat sebagai pemecah protein (pelunak daging), tetapi daya proteolitiknya lebih rendah daripada papain. Makin ke bagian atas tanaman, umurnya makin panjang dan produksinya rendah. Budi Daya tanaman Nanas ditanam dengan sistem dua-dua baris. Tiap baris pada jarak 60 cm x 60 cm dan jarak antarbaris 150 cm. Namun, nanas dapat pula ditanam pada jarak 30 – 40 cm. Semakin rapat jarak tanamnya, buah yang dihasilkan semakin kecil. Untuk kebutuhan industri pengalengan (canning) biasanya diperlukan buah berukuran kecil (jarak tanam 30 cm x 40 cm) silindris. Buah nanas sebagaimana yang dijual orang bukanlah buah sejati, melainkan gabungan buah-buah sejati (bekasnya terlihat dari setiap 'sisik' pada kulit buahnya) yang dalam perkembangannya tergabung -- bersama-sama dengan tongkol (spadix) bunga majemuk -- menjadi satu 'buah' besar (Komandoko, 2008).

D.  Manfaat
Menurut Hembing (2006), menyatakan bahwa bagian utama yang bernilai ekonomi penting dari tanaman nanas adalah buahnya. Buah nanas dapat bermanfaat bagi kesehatan tubuh, sebagai obat penyembuh penyakit sembelit, gangguan kencingm mual-mual, flu, wasir dan kurang darah.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diketahuai  bahwasanya buah nanas dapat digunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit di anatarnya adalah sebagai beriku (Hembing, 2006):
1.   Membantu untuk pnyembuhan berak darah (melena)
2.   Membantu sebagai anti diare atau penyembuh diare dengan sifat kimiawi dan fermatologi rasa manis,sejuk dan anti diare.
3.   Melancarkan pencernaan protein. Manfaat nanas ini dapat kita peroleh karena buah tersebut memiliki enzim bromelain dalam jumlah besar. Enzi mini bermanfaat untuk memperlancar proses pencernaan dan sebagai pelega tenggorokan. Enzim bromelain berfungsi sebagai pencerna protein yang terdapat dalam makanan hingga dapat diserap oleh tubuh.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan dan didukung dengan beberapa literatur dapat disimpulkan bahwasanya banyak sekali tumbuhan yang telah tersedia di alam ini yang memiki banyak kegunaan dalam menyembuhkan penyakit khususnya saluran pencernaan. Beberapa tumbuhan yang diyakini dapat membantu dalam menyembuhkan penyakit khususnya yang pada saluran pencernaan, adalah sebagai berikut: Jambu biji (Psidium guajava L.), Adas (Anethum graveolens L.), kedondong (Lannea grandis Engl.), Kompri (Lannea grandis Engl.), Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L), Tapak Dara Catharantus roseus (L.) G. Don),  Asam Jawa (Tamarindus indica L.), dan Nanas (Ananas comosus Merr).
Jambu biji  dapat membantu mengatasi diare, disentri, dan sembelit, adas dapat membantu mengatasi sakit perut dan daunnya untuk merawat saluran pencernaan. Kedondong dan kompri dapat membantu dalam mengatasi mencret karena saponin, flavonioda, dan tannin. Belimbing wuluh dan tapak dara juga dapat digunakan untuk membantu dalam mengatasi radang perut dan disentri. Sedangkan asam jawa dan nanas dapat membantu dalam menyembuhkan diare dan sakit peru serta memperlancarkan saluran pencernaan.

3.2 Saran
Sebaiknya dilakukan pengamatan, penelitian dan kajian lebih lanjut mengenai berbaagi jens tumbuhan yang dapat digunakan untuk membantu dalam menyembuhkan berbagai penyakit dalam khusunya saluran pencernaan. Mengingat bahwasanya Indonesia merupakan Negara yang kaya akan kenekaragaman tumbuhan yang ada di alam ini.


DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Azwar. 2010. Tanaman Obat Indonesia. Jakarta : Selemba Medika
Arisandi, Yohana. 2008. Khasiat Tanaman Obat. Jakarta: Pustaka Buku Murah
Hembing, Wijaya. 2006. Ramuan Tradisional Untuk Pengobatan Darah Tinggi. Jakarta : Penebar Swadaya
Kartasapoetra. 1992. Tanaman Berkhasiat Obat. Jakarta: Pustaka Ilmu
Komandoko, Gamal. 2008. Aha! Aku Tahu Flora Dan Fauna Untuk Anak Cerdas. Yogyakarta: Citra Pustaka
Lingga, Lanny. 2008. Vinca : Si Tapak Dara Yang Menawan. Bandung : Agromedia
Purwaningsih, Eko. 2007. Multiguna Belimbing Wuluh. Bandung : Ganeca
Soenanto, Hardi. 2009. 100 Resep Sembuhkan Hipertensi, Asam Urat, dan Obesitas. Jakarta : Gramedia
Tjitrosoepomo, Gembong. 2005. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: UGM Press.
www.iptekenet.com


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar